Pertumbuhan Konsumsi Sandang dan Alas Kaki Melambat
Daftar Isi
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,94% sepanjang tahun. Tetapi menariknya, sektor sandang justru tertinggal.
Pengeluaran masyarakat untuk pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya hanya tumbuh 2,55% sepanjang tahun, lebih rendah dibandingkan sektor transportasi dan komunikasi yang melesat 6,56% atau restoran dan hotel di 6,53%.
Artinya, masyarakat lebih memilih mengalokasikan pengeluarannya ke mobilitas dan pengalaman, sementara belanja sandang tak menjadi prioritas utama. Bahkan, hingga pertengahan tahun, pertumbuhan belanja pakaian masih stagnan di kisaran 1,7% sebelum akhirnya naik ke 2,55% di kuartal IV-2024.
Dalam empat tahun terakhir, rata-rata konsumsi pakaian,alas kaki, dan jasa perawatannya hanya tumbuh 2,74%.
Adanya pergeseran atau shifting konsumsi dari kebutuhan membeli sepatu dan fashion menjadi salah satu penyebab turunnya konsumsi fashion, termasuk sepatu.
Melandainya konsumsi pakaian dan alas kaki berimbas pada industri tekstil. Rata-rata industri tekstil hanya mencapai 2,75% dalam lima tahun terakhir. Sepanjang 2024, industri tekstil hanya tumbuh 4,26%. Pertumbuhan tersebut jauh di bawah periode 2011-2014 yang mencapai 6,14%.
Melemahnya konsumsi fashion, ambruknya industri tekstil dan turunnya ekspor menjadi sejumlah faktor yang mendorong terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di industri tekstil.
Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI) mencatat, total ada 60 pabrik yang telah melakukan efisiensi dengan pengurangan produksi maupun pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, bahkan berhenti total. Setidaknya, dari angka itu, ada lebih 30 pabrik yang dikonfirmasi telah tutup atau berhenti produksi secara total.