Bantuan Sosial (Bansos) Beras senilai Rp. 25 Triliyun menurut pernyataan Kementrian Keuangan alokasi dananya terancam tidak terserap secara optimal
Daftar Isi
NASIONAL,- Bantuan Sosial (Bansos) Beras senilai Rp. 25 Triliyun menurut pernyataan Kementrian Keuangan alokasi dananya terancam tidak terserap secara optimal.
Dengan potensi penyerapan yang rendah, pemerintah pun berencana melakukan realokasi dana bansos beras itu untuk program lain yang lebih strategis. Dengan demikian, dana yang sudah dialokasikan untuk perlindungan sosial di tengah pandemi virus corona bisa tetap terserap.
Menurut Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kemenkeu Kunta Nugraha dalam video conference (3/7) ada beberapa isu yang berkembang di masyarakat terkait penyaluran bansos. Beberapa contohnya adalah masih terjadi penyaluran yang tidak tepat sasaran, kualitas sembako rendah, dan distribusi tidak optimal. Penyaluran bansos masih tumpang tindih dengan bantuan yang diberikan oleh pemerintah daerah (pemda). Dengan kata lain, data yang dimiliki pemerintah pusat dan daerah masih belum sinkron satu sama lain.
-
-
-
Pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp203,9 triliun untuk perlindungan sosial sebagai bagian dari penanganan pandemi virus corona. Mayoritas dana dialokasikan untuk bansos sembako sebesar Rp43,6 triliun. program keluarga harapan (PKH) sebesar Rp37,4 triliun, bansos Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) Rp6,8 triliun, bansos non Jabodetabek Rp32,4 triliun, program kartu prakerja Rp20 triliun, diskon listrik Rp6,9 triliun, logistik/pangan/sembako Rp25 triliun, dan bantuan langsung tunai (BLT) dana desa Rp31,8 triliun. Kunta menyatakan realisasi dari program perlindungan sosial sejauh ini sebesar 34,06 persen. Ia mengklaim penyalurannya cukup baik karena pemerintah memiliki beberapa program yang sudah eksisting sejak tahun lalu.
#beritanasional #cirebonberita
.
.
.
.
.
Dilansir dari cnn Indonesia